Internet dan Perjuangan Melawan Ingatan

Internet tidak bisa dipisahkan dari kehidupan banyak orang. Peran internet semakin penting sejak datangnya era mesin pencari yang kerap didaulat sebagai ”guru” yang serba tahu. Kini, banyak orang tua bangga karena anaknya yang masih kecil cepat pintar sejak berkawan dengan Google.

Tetapi, internet jauh lebih menyenangkan di era jejaring sosial sekarang. Tiap hari jutaan orang berlomba-lomba memasok informasi dan menampilkan gambar milik pribadi di sana. Sebagian memahami konsekuensinya, namun sepertinya, kebanyakan masih menganggap bahwa tebar pesona di internet bukanlah sebuah ancaman.

Ingatan
Cara kerja mesin pencari dan situs jejaring sosial adalah mencatat serta menyimpan semua data dan informasi yang dimasukkan pengguna internet. Perbedaannya dengan manusia, ingatan keduanya tahan lama. Suatu saat, jika kebetulan ada yang memerlukan, maka semua informasi itu akan disajikan kembali dalam bentuk hirarki yang diurutkan mulai dari yang paling relevan. Dan siapa pun dapat mengakses semua informasi tadi dengan bebas dan mudah.

Informasi yang datang dari masa lalu tersebut kerap membawa petaka. Baru-baru ini, seorang guru besar PTS di Bandung diberitakan menjiplak karya penulis asing. Meski perbuatan itu diakuinya di Facebook sebagai ”unintentionally” (Kompas, 10/2), namun para blogger di Kompasiana dengan lekas menelusuri artikel-artikel lain atas namanya di situs mesin pencari. Ironis, mereka menemukan ada sejumlah artikel lain yang juga diduga hasil plagiarisme.

Menurut Schönberger, dalam bukunya Delete: The Virtue of Forgetting in the Digital Age (2009), melupakan menjadi lebih sulit ketimbang mengingat di era digital ini. Google lebih tahu tentang kita lebih dari apa yang mampu kita ingat tentang diri sendiri. Akibatnya? Dengan susah melupakan, tidak saja akan menyulitkan seseorang dalam memelihara reputasi. Tetapi semua masa lalu, yang baik atau buruk, akan selalu ada dan memengaruhi pikiran dan keputusan saat ini.

”Melupakan” adalah kodrat yang amat manusiawi. Dengan keistimewaan ini manusia bergerak maju dan meninggalkan masa silam yang kadang traumatik dan memenjara. Apa jadinya jika semua pengalaman itu terekam dalam bentuk memori digital yang tak pernah lupa?

Pengguna internet di negara kita kian berkembang dengan partisipasi generasi muda di situs-situs jejaring sosial yang sangat tinggi. Semakin sering terdengar kasus-kasus yang menimpa mereka seperti digugat ke pengadilan karena menulis status ofensif di Facebook atau Twitter. Sangat riskan, jika hal-hal sepele yang mereka lakukan sekarang –tanpa pernah disadari—ternyata akan mencederai masa depannya. Baik dalam karir publik ataupun kehidupan pribadi.

Di sisi lain, di internet juga marak fenomena main hakim sendiri (internet vigilantism). Peristiwa yang terkenal menimpa seorang gadis Korea Selatan yang enggan membersihkan kotoran anjingnya di dalam subway. Penumpang di dekatnya yang merasa jengkel memotret dan menayangkan kejadian itu di situs internet yang populer. Dalam sekejap, kekuatan internet menjadikan ”dog poop girl” sebagai cemoohan global. Karena malu, gadis itu akhirnya memilih keluar dari universitas.

Contoh tersebut memberikan hikmah, internet memiliki tendensi menghukum lebih berat atas kesalahan kecil yang terjadi di dunia nyata. Orang seharusnya gampang melupakan itu, tetapi internet justru membuat ingatan atasnya tertanam secara permanen.

Kerjasama
Pengaruh digitalisasi belum sepenuhnya dapat dipahami akan seperti apa dampaknya di masa datang. Selain menyajikan keakraban dalam forum-forum diskusi virtual, internet tampaknya masih akan menjadi ladang yang menumbuhkan intoleransi. Setiap saat kita bisa menemukan pengguna internet yang berupaya menggalang dukungan publik untuk menyerang pribadi, institusi, serta keyakinan, yang tidak disukai di Facebook.

Jalan untuk menurunkan ekses negatif internet antara lain dengan meningkatkan kerjasama dan memperkuat perangkat hukum. Selain kurang efekftif, pilihan otoritarianisme di dunia maya hanya akan menelan ongkos yang mahal.

Situs-situs besar di internet memiliki kepentingan menjaga reputasi mereka dan memelihara kenyamanan bagi para pengguna setianya. Hampir separuh pegawai di Facebook adalah laskar ”porn cop” yang bertugas memerangi masuknya konten ilegal seperti pornografi. Pada masa awal kemunculannya di AS, polisi menjalin kerjasama dengan Facebook untuk mengawasi pesta-pesta yang dimobilisasi dari situs ini yang menjamur di kalangan mahasiswa.

Dalam pandangan Schönberger, seperti pada makanan, penyimpanan data di internet harus memiliki masa “kadaluwarsa” agar nantinya tidak menikam masa depan seseorang. Perlu aturan agar mesin pencari yang jumlahnya banyak itu, diwajibkan menghapus konten secara otomatis setelah masa tertentu.

Saran tersebut mungkin harus dikecualikan untuk keperluan dunia akademis. Kita perlu melawan ingatan buruk, tetapi harus memelihara memori digital yang baik. Universitas Indonesia menjadi salah satu perguruan tinggi yang membuka secara utuh hasil karya ilmiah mahasiswa seperti skripsi sehingga bisa diakses secara bebas di internet. Langkah ini membuka peluang plagiarisme sekaligus mencegahnya.

Strategi open access akan lebih efektif jika Indonesia punya mesin pencari yang bertumpu pada konten lokal seperti Baidu yang berjaya di China. Karena itu, selain perlu segera merevisi UU ITE, pemerintah juga perlu mendukung lahirnya mesin pencari lokal di internet.

Artikel dimuat Harian Kontan, 19 Februari 2010


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?


0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment