Menimbang Rencana Investasi Google

Banyak pihak menyambut hangat rencana masuknya raksasa mesin pencari Google ke Indonesia. Meski ada sejumlah regulasi yang bisa jadi kendala, namun tidak sedikit yang merasa optimististis investasi Google akan terealisasi dalam waktu dekat. Investasi tersebut, selain diharapkan membuka lapangan kerja dan ikut menggali potensi talenta muda Indonesia, yang tak kalah penting adalah mengerek kepercayaan di mata internasional.

Tidak diragukan lagi, Google yang saat ini baru berusia 12 tahun adalah perusahaan teknologi terdepan di dunia. Karena sangat besar dan nyaris tak tertandingi, dalam beberapa tahun terakhir sepak terjangnya menjadi sorotan tajam termasuk di negara asalnya Amerika Serikat. Saat mantan CEO Google Eric Schmidt datang ke Jakarta, di AS Google sedang menghadapi tuntutan karena dianggap menerabas undang-undang antimonopoli. Schmidt dijadwalkan akan memberikan kesaksian dihadapan Senat AS September mendatang.

Dominasi Google di dunia bermula dari mesin pencari miliknya yang sangat superior. Perusahaan yang berbasis di California ini hanya bertekuk lutut di China, Rusia, Korea Selatan, Hongkong, dan sedikit tercecer di belakang Yahoo! di Jepang. Ironisnya, Indonesia termasuk negara tidak berbahasa Inggris yang tidak punya kuasa menantang kedigdayaan Google di arena mesin pencarian web.

Kritik terhadap Google semakin berkobar seiring ekspansi layanannya. Banyak negara melarang Google Street Views sebuah teknologi yang dicangkokkan ke dalam Google Maps dan Google Earth karena dinilai melanggar privasi. Lewat layanan ini Google menampilkan pemandangan sudut-sudut jalan di berbagai kota di dunia lengkap dengan detak kehidupan yang ada di sana.

Google tidak disukai bukan karena produk-produknya tidak bermanfaat dan kurang canggih. Namun Google banyak dikecam karena terkadang meloncati batas-batas privasi, menabrak hak cipta, dan tangan-tangannya yang perkasa telah ikut mengerdilkan kompetisi.

Google memiliki motto atau slogan perusahaan yang unik: “Don’t be evil”. Konon, slogan ini dipahami sebagai tekadnya tidak berperilaku jahat dan secara eksplisit sering diartikan juga “jangan jahat” seperti kompetitornya, terutama Microsoft yang terbukti melakukan praktik monopoli pada dekade 1990-an.

Ternyata godaan datang juga saat Google berada di puncak singgasana. Misalnya, Google melakukan sensor terhadap hasil pencarian demi menjaga eksistensi bisnisnya di China. Bahkan Microsoft pun balik menuduh Google telah melakukan praktik bisnis tidak terpuji terhadapnya.

Google menjadi raksasa dari bisnis periklanan. Tahun lalu, sebanyak 96 persen dari total pendapatan $29 miliar dollar AS diperoleh dari iklan. Dua pertiga pendapatan tersebut disumbang iklan mesin pencari (paid search) dan sisanya didapat dari iklan yang ditanam di website atau blog yang menjadi mitranya (publisher).

Menurut James Gleick, pendapatan yang dikumpulkan Google tersebut masih lebih besar ketimbang pendapatan iklan seluruh koran di AS jika digabungkan. Akibatnya, Google tak ubahnya “setan besar” bagi media cetak karena “mencuri” konten untuk Google News dari versi online sekaligus menggerogoti kue iklan mereka.

Meski produk utama Google adalah mesin pencari, namun sayap bisnisnya terus melebar ke setiap platform yang bisa ditempeli iklan. Google menyediakan berbagai aplikasi penunjang produktivitas seperti Gmail, membeli situs berbagi video YouTube, membesarkan sistem operasi Android untuk perangkat mobile, dan baru saja meluncurkan Google+ sebagai pesaing Facebook.

Keliru jika menganggap Google hanya peduli dan fokus pada periklanan. Meski masih terbatas di AS, Google sudah membuka toko buku dan musik digital. Sebelumnya, Google juga berupaya menjadi perpustakaan terbesar dengan memindai jutaan buku ke dalam bentuk digital dan semua bisa ditemukan lewat mesin pencari miliknya.

Di masa depan bisa saja Google akan lebih dalam lagi memasuki kehidupan kita dengan berbagai layanan dan produknya. Dan sepak terjang sang raksasa, seperti ditulis Siva Vaidhyanathan dalam bukunya “The Googlization of Everything” (2011), sebagian sangatlah mencemaskan.

Investasi Asing
Literatur ekonomi berpihak pada investasi asing karena pengaruh positifnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Rencana investasi Google yang disebut-sebut jumlahnya sangat besar sangat menarik dari perspektif tersebut.

Dari sudut lain, investasi asing tidak sejalan dengan keinginan melahirkan national champions, untuk tidak mengatakan menghambatnya. Di Perancis jurnalis media elektronik dilarang menyebut nama media sosial seperti Facebook dan Twitter dalam siaran mereka jika tidak terkait berita korporasi. Peraturan tersebut diperlukan untuk melindungi hak hidup benih-benih perusahaan teknologi lokal yang masih rapuh.

Perlindungan semacam itu akan dibutuhkan situs pencari lokal seperti Basigi.com yang dikembangkan Detikcom, termasuk juga berbagai layanan berbasis web dan situs periklanan yang dibangun oleh pengembang lokal.

Awal mula kerajaan bisnis Google tak lepas dari keberhasilannya menggaet usaha kecil dan menengah (UKUM) beriklan melalui sistem mereka yang sederhana dan canggih. Tahun ini Google juga memoles ulang halaman bisnis berbasis lokasi yang disebut Google Places dan meluncurkan AdWords Express sebagai sistem periklanan yang lebih sederhana lagi. Tidak salah lagi, jutaan UKM di Indonesia yang semakin melek internet merupakan pasar potensial untuk Google.

Seyogianya pemerintah perlu mengatur secara ketat ruang gerak pemain asing di dunia online yang relatif baru ini. Jangan sampai investasi Google hanya mengukuhkan dominasi asing di negeri ini.

Dimuat Kontan, 6 Agustus 2011


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?


0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment